MPI Lampung - Cara-cara
misionaris Syiah (Rafidhah) dalam menjerat manusia, agar mengikuti ajaran
mereka tak ubahnya seperti cara-cara misionaris Kristen. Mereka ini wajib
dihadapi, diwaspadai, ditangkal, dan dihentikan aksi-aksi misionarisasinya.
Kaum Muslimin bisa kufur kalau secara sadar mengikuti akidah mereka. Apakah
ajaran Syiah (Rafidhah) sedemikian sesat sehingga bisa menimbulkan kekufuran
bagi mereka yang mengikutinya?
Aqidah
Syiah
1. Melaknat para Shahabat Radhiyallahu ‘anhum, khususnya Abu
Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Abu Hurairah, dan lain-lain. Perbuatan
melaknat ini kekufuran, sebab bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala dalam surat At-Taubah ayat 100 disana disebutkan bahwa Allah Ta’ala
sudah ridha kepada para Shahabat.
2. Syi’ah meyakini bahwa barangsiapa
yang melaknat Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, ‘Aisyah,
Hafsah radhiyallahu ‘anhum setiap selesai shalat maka dia sungguh telah
mendekatkan diri kepada Allah dengan pendekatan diri yang paling utama.
3. Syi’ah meyakini bahwa seluruh
manusia (para sahabat) murtad setelah wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam kecuali empat orang : Salman Al Farisi, Abu Dzar Al Ghifari, Miqdad
bin Aswad, dan ‘Ammar bin Yasir.
4. Meyakini bahwa istri-istri Nabi, Radhiyallahu ‘anhunna, bukan
termasuk Ahlul Bait Nabi. Bahkan dengan terang-terangan menyebut Siti Aisyah
adalah seorang pezina. Dalam Surat Al Ahzab ayat 33 jelas-jelas disebutkan
bahwa isteri-isteri Nabi adalah Ahlul Bait beliau. Allah mengakui mereka
sebagai Ahlul Bait Nabi, tetapi kaum Syiah tak mengakui.
5. Meyakini bahwa Kitab Suci Al Qur’an sudah diubah oleh para
Shahabat, sehingga Al Qur’an di sisi kita selama ini dianggap palsu (banyak
diganti, ditambah, dan dikurangi). Ini adalah tuduhan sangat jahat dan keji.
Keyakinan ini bertentangan dengan Surat Al Hijr ayat 9, bahwa Allah akan selalu
menjaga Al Qur’an.
6. Meyakini bahwa Imam-imam Syiah adalah manusia ma’shum, terjaga dari
kesalahan, kata-kata mereka merupakan dasar hukum agama. Hal ini sama saja
dengan meyakini, bahwa ada syariat baru yang diturunkan Allah setelah
sempurnanya Syariat Islam. Jelas ini bertentangan dengan Al Maa’idah ayat 3.
Bahkan ia seperti keyakinan Ahmadiyyah yang meyakini ada Nabi lain setelah Nabi
Muhammad Shalallah ‘Alaihi Wasallam.
7. Meyakini bahwa Imam-imam Syiah memiliki sifat rububiyyah
(ketuhanan) yang sebenarnya hanya layak menjadi sifat Allah Ta’ala. Ini
adalah akidah kemusyrikan yang jelas-jelas bertentangan dengan TAUHID.
8. Meyakini akidah Bada’, yaitu selalu muncul ilmu-ilmu baru yang
sebelumnya belum diketahui oleh Allah Ta’ala. Dengan akidah ini, kaum
Syiah bisa menampung ajaran apapun, sekalipun kekufuran yang amat sangat kufur.
Karena ia dilegitimasi dengan pemikiran, “Selalu muncul ilmu Allah yang baru.
Hal-hal baru, kalau menarik, boleh diambil.” Keyakinan ini sama saja dengan
membuang Syariat Islam dari dasar-dasarnya.
9. Melegalkan perzinahan melalui praktik Nikah Mut’ah. Pelaku nikah
mut’ah kalau melakukan perbuatan itu karena dorongan nafsu, dengan tetap
meyakini bahwa perbuatan itu haram (telah diharamkan oleh Nabi), maka masih
mungkin dia akan diampuni Allah Al Ghafuur. Tetapi kaum Syiah mengklaim, nikah
mut’ah itu amal shalih yang besar pahalanya. Hal ini sama saja dengan “al
istihlal bi maa haramallahu bihi” (menghalalkan apa yang telah diharamkan
Allah). Sikap demikian termasuk jenis kekufuran.
10. Meyakini bahwa kaum Ahlus Sunnah halal darahnya, halal hartanya,
halal kehormatannya; ini adalah keyakinan bathil yang mewajibkan para
penganutnya terkena hukum kekufuran. Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam
bersabda: “setiap Muslim atas Muslim lainnya, diharamkan kehormatan, harta,
dan darahnya”. (HR. At Tirmidzi)
11. Syi’ah meyakini bahwasanya syahadat Laa
ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah harus disertai dengan
persaksian bahwa Ali adalah wali Allah. Mereka senantiasa mengulang-ulanginya
dalam adzan mereka dan setiap setelah selesai shalat dan ketika mentalkin orang
yang sudah meninggal. Begini bunyi syahadatnya.
Ø£َØ´ْÙ‡َدُ Ø£َÙ†ْ لاَ Ø¥ِÙ„َÙ‡َ Ø¥ِلاَّ اللهُ
“Aku
bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah.”
Ø£َØ´ْÙ‡َدُ Ø£َÙ†َّ Ù…ُØَÙ…َّدًا
رَسُÙˆْÙ„ُ اللهِ
”Aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Ø£َØ´ْÙ‡َدُ Ø£َÙ†َّ عَÙ„ِÙŠًّا ÙˆَÙ„ِÙŠُّ اللهِ
”Aku
bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah.”
Yang disebutkan di atas hanyalah
sebagian saja dari kesesatan akidah – akidah Syi’ah. Masih banyak akidah-akidah
lainnya yang menyimpang dari ajaran Islam, bisa kita temukan dalam kitab-kitab
rujukan syiah seperti: Ushuulul Kaafi, Baharul Anwar, Furuu’il Kaafi, dsb.
Dengan
keyakinan-keyakinan seperti di atas, maka gerakan misionaris Syiah SERUPA
belaka dengan gerakan Kristenisasi. Kalau mereka berhasil memasukkan seorang
Muslim ke dalam kelompoknya, itu sama seperti telah berhasil memurtadkan dia.
Cara
Kerja Misionaris Syiah
Disini
kita perlu mengenali cara-cara kerja misionaris Syiah Rafidhah, agar kita bisa
mewaspadai, menghindari, atau mematahkan cara-cara licik mereka. Hanya kepada
Allah Ta’ala kita memohon ‘afiyat dan salamah. Aamiin.
Berikut
ini cara-cara yang biasa dilakukan misionaris Syiah Rafidhah untuk menjerat
manusia, antara lain:
1. Mereka mula-mula akan melihat calon target yang akan mereka
dakwahi. Target ini bisa dikelompokkan dalam jenis: ‘alim, pertengahan, awam.
Orang alim dianggap “klas A”, orang pertengahan dianggap “klas B”, dan orang
awam dianggap “klas C”. Untuk masing-masing target berbeda pola dakwahnya.
2. Bagi orang ‘alim, misionaris Syiah akan mulai menanamkan keraguan
terhadap hadits-hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Mereka
akan berlagak ilmiah. Tujuannya, akan menanamkan keraguan terhadap
hadits-hadits Nabi. Bagi orang pertengahan, mereka akan kemukakan hadits seputar
“pentingnya mempunyai imam”. Mereka akan mengeluarkan hadits, “Barangsiapa mati
dalam keadaan tidak berbaiat kepada seorang imam, maka matinya mati
jahiliyyah.” Nanti, tafsir imam itu akan mereka arahkan untuk mengimani
imam-imam Syiah (termasuk Khomeini). Bagi orang awam, mereka akan masuk dari
cerita-cerita seputar penderitaan Husein bin Ali di Karbala, cerita seputar
Hasan bin Ali, juga cerita seputar “Ali yang dizhalimi”.
3. Untuk memantapkan keyakinan kepada ajaran Syiah, mereka akan
mengemukakan tentang hadits “Ghadir Khum”. Ini standar sekali. Misionaris Syiah
akan mengklaim, bahwa dulu waktu Nabi menjelang wafat, beliau menyampaikan
pesan, agar kaum Muslimin sepeninggal beliau selalu berpegang kepada Kitabullah
dan Ahli Bait beliau (Ali, Fathimah, Hasan, Husein, dan lainnya). Menurut
penelitian Prof. Dr. Ali Ahmad As Salus (penulis kitab monumental Ensiklopedi
Sunnah-Syiah), tidak ada satu pun hadits seputar Ghadir Khum ini yang shahih.
Rata-rata lemah atau palsu. Justru beliau menguatkan hadits Nabi, bahwa kaum
Muslimin akan senantiasa selamat dan lurus, selama berpegang kepada Kitabullah
dan Sunnah Nabi. Melalui hadits “Ghadir Khum” itu, kaum Syiah mulai membangun
rasa kekaguman, penghambaan, kehinaan diri, di hadapan sosok-sosok Ahlul Bait.
Nah, praktik penyembahan Ahlul Bait dimulai dari sini.
4. Misionaris Syiah akan menangkal kemungkinan para pengikutnya untuk
lari dari ajaran Syiah, dengan cara mengajak mereka terjerumus dalam praktik
“kawin kontrak” alias nikah mut’ah. Baik laki-laki maupun perempuan akan
didorong untuk melakukan nikah mut’ah. Kalau tak mau, akan dipaksa-paksa supaya
mau. Kalau seseorang sudah sekali saja pernah merasakan nikah mut’ah,
misionaris Syiah akan sujud syukur. Satu sisi, kalau ada pemuda/pemudi yang
melakukan nikah mut’ah, dia akan terdorong untuk “lagi dong”. Kalau sudah
sering, maka tidak akan ada “jalan pulang” bagi manusia-manusia malang itu.
Nikah mut’ah bukan hanya sebuah keyakinan sesat, tetapi juga merupakan metode
untuk menjerat pengikut agar tidak berani keluar dari kelompok mereka. Kalau
ada yang berani keluar, akan ditakut-takuti, “Awas lho ya, kamu sudah melakukan
ML dengan si anu dan si anu. Kalau kamu keluar dari Syiah, akan kami bongkar
kedok kamu!” Dengan ancaman itu, para pengikut Syiah tersebut menjadi ketakutan.
5. Untuk menyempurnakan keikut-sertaan seseorang pada paham Syiah,
mereka akan diberi pendalaman, misalnya berupa ajaran TASAWUF, ritual menyiksa
diri, ritual mengutuk Shahabat, doktrin permusuhan kepada Ahlus Sunnah,
pentingnya dakwah menyebarkan ajaran Syiah Rafidhah, dan lain-lain. Ini sudah
stadium kronis. Bahkan kalau ada pemeluk Syiah yang ketahuan terkena penyakit
kelamin atau HIV, hal itu harus ditutupi serapat-rapatnya.
6.
Selain cara di atas, misionaris Syiah juga menggaet manusia melalui
peluang kerja, mengisi posisi jabatan penting, memberi proyek, peluang bisnis,
memberi beasiswa ke Iran, dan lain-lain. Selain itu, mereka juga melakukan
gerakan penyusupan kemana-mana. Mereka masuk ke MUI, ormas Islam, masuk ICMI,
Republika, masuk UIN, lembaga pendidikan Islam, partai politik, komunitas ini
itu, dsb.
Begitulah
cara-cara yang kerap dipakai oleh misionaris Syiah untuk meruntuhkan akidah
Islam, lalu membawa Ummat murtad dengan meyakini keyakinan bathil mereka. Para
misionaris Syiah sebenarnya bisa dikenali dari wajah mereka yang tampak
berbeda, sebagai hasil dari kebiasaan berdusta, berzina (nikah mut’ah), dan
mengutuk Shahabat. Tetapi di mata orang biasa, hal ini agak sulit dikenali.
Setelah
mengenali bagaimana menyimpangnya aqidah syiah dan bagaimana cara mereka
menyebarkan fahamnya ke tengah-tengah kaum muslimin, hendaknya kita waspada
dari bahaya ini. Untuk itu marilah kita ajak istri, anak, dan orang-orang
disekitar kita untuk memahami islam ini secara kaffah, agar dapat terhindar
dari bahaya virus syi’ah ini.
Maukah
negara kita ini menjadi negara syiah sebagaimana negara Iran yang sekarang ini
dipimpin oleh presiden Mahmoud Ahmadinejad? Taukah Anda apa yang
terjadi di Iran? Banyak kaum muslim (ahlussunah waljama’ah) dibantai di sana,
banyak masjid-masjid, dan madrasah dihancurkan. Sampai-sampai saat ini tidak
satupun masjid kaum muslimin berdiri di Ibu kota Iran yaitu Teheran. sehingga
apabila kita berkunjung ke Teheran, maka kita akan sulit menemukan adanya
shalat jum’at di sana, karena salah satu keyakinan orang syiah adalah shalat
jum’at hukumnya bukan fardhu ‘ain. Yang ada disana adalah masjid kaum syiah,
bahkan yang lebih menyengangkan lagi sinagog Yahudi dan gereja Nasrani banyak terdapat
disana.
Ataukah
negara kita ingin seperti Suriah? Dimana disana juga terjadi pembantaian
terhadap kaum muslimin oleh rezim syiah yang dipimpin oleh presidennya Bashar al-Assad. Dari kedua contoh negara ini baik Iran maupun Suriah
pasti jawaban kita adalah tidak untuk keduanya bukan? Untuk itu kita sebagai
kaum muslimin hendaknya mewaspadai pergerakan syi’ah, bisa jadi mereka ada
didekat kita.
Wallahu
a’lam bish showwab
Semoga
apa yang ditulis ini bermanfaat. Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita
dari bahaya kaum Syiah Rafidhah, sebab bahaya mereka tak berbeda jauh dengan
bahaya misionaris Kristen. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum, fid dini wad
dunya wal akhirah. Allahumma amin.



0 Komentar