MPI Lampung - Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika
ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah
niscaya dan wajib. Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“….Bahwa dalam diri setiap
manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh
amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya.
Gumpalan daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari)
Tentang perusak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
menyebutkan ada lima perkara yang menyebabkan hati menjadi rusak yaitu: bergaul
dengan banyak kalangan (baik dan buruk), angan-angan kosong, bergantung kepada
selain Allah, kekenyangan dan banyak tidur.'
Bergaul dengan banyak
kalangan
Pergaulan adalah perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman.
Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah. Teman-teman yang buruk lambat
laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan
membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang
negatif.
Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ
عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ
فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Dari Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘anhu dari nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
: seseorang itu atas din saudaranya. Maka lihatlah salah seorang diantara
kalian, siapa yang ditemani. (HR. Ahmad)
Artinya, kalau kita ingin melihat kwalitas din
seseorang, maka lihatlah teman-temannya. Jika temannya adalah orang-orang
rusak, maka dinnya rusak. Dan jika temannya adalah orang-orang shalih, maka
dinnyapun baik.
Allah Ta’ala berfirman :"Teman-teman akrab pada hari itu
sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang
bertakwa." (Az-Zukhruf: 67).
Maka bergaullah dengan para ulama’ dan orang-orang sholih, karena
ia ibarat makanan yang kita kunsumsi setiap hari. Sedikit saja kita jauh
darinya akan menjadikan hati kita jauh dari Allah Ta’ala dan islam.
Sebaliknya, kita harus menjauhi teman para ahli bid’ah dan ahli maksiyat,
karena ia adalah racunnya hati yang dapat mematikan hati kita dan sulit
mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala.
Larut dalam angan-angan
kosong
Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan
tempat berlayarnya orang-orang bangkrut. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah
modal orang-orang bangkrut. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya,
khayalan-khayalan dusta senantiasa mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang
mempermainkan bangkai.
Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka
cita-citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya
kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Adapun angan-angan kosong ia
adalah tipu daya belaka. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memuji orang yang
bercita-cita terhadap kebaikan.
Bergantung kepada selain
Allah
Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Tidak ada sesuatu yang
lebih berbahaya dari bertawakkal dan bergantung kepada selain Allah. Jika seseorang bertawakkal kepada selain Allah
maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia
bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya
sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari
makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, artinya:
"Dan mereka telah mengambil
sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung
bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan
mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka
(sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka." (Maryam: 81-82)
Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain
Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah
laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh. Lebih
dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas
ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina
dan nista. Allah berfirman, artinya: "Janganlah kamu adakan tuhan
lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan
(Allah)." (Al-Isra': 22)
Makanan (kekenyanngan)
Makanan perusak ada dua macam:
Pertama , merusak karena
dzat/materinya, dan ia terbagi menjadi dua macam. Yang diharamkan karena hak
Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung
yang berkuku tajam. Kedua, yang diharamkan karena hak hamba, seperti barang
curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, baik karena
paksaan, malu atau takut terhina.
Kedua, merusak karena melampaui ukuran dan
takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan kelewat batas.
Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk
terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah
kekenyangan, maka ia merasa berat dan karenanya ia mudah mengikuti komando
setan. Setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa
mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya setan. Sedangkan kekenyangan
memperluas aliran darah dan membuat setan betah tinggal berlama-lama.
Barangsiapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak
merugi.
Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan: "Tidaklah
seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya
(dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan)
yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga
untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk
nafasnya." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh
Al-Albani).
Kebanyakan tidur
Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu
dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada
yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling
bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan.
Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah
larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di
pagi atau sore hari. Bahkan tidur pada sore dan pagi hari lebih banyak
madharatnya daripada manfaatnya.
Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara shalat Shubuh
dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategis. Karena
itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk
ibadah, mereka tidak mau tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit.
Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan
dibagi-bagikannya rizki, saat diberikannya barakah. Maka masa itu adalah masa
yang strategis dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Karenanya, tidur
pada waktu itu hendaknya karena benar-benar sangat terpaksa.
Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah
pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam,
atau sekitar delapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut para dokter. Jika
lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya.
Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah
tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasul Shallallahu
'alaihi wa sallam .
Apabila kita lihat pada bulan Ramadhan Banyak orang yang berpuasa,
akan tetapi melakukan beberapa pelanggaran-pelanggaran diatas. Mereka
memperbanyak makan karena seharian berpuasa. Ada yang memperbanyak tidur ,
padahal bulan puasa adalah bulan ibadah bukan bulan untuk memperbanyak tidur.
Ada pula yang banyak melamun, bergaul dengan orang-orang rusak dengan alasan
untuk menunggu berbuka puasa.
Wallahu a’lam bish showwab
(Disadur dari Mufsidaatul Qalbi Al-Khamsah, min kalami Ibni Qayyim
Al-Jauziyyah)



0 Komentar