MPI Lampung - Ada setan yang selalu membuntuti ke mana manusia pergi.
Sesekali membujuk dan merayunya untuk jatuh ke dalam jurang maksiat. Sesekali
meninabobokkan ia dari kewajiban. Pada kali lain setan itu juga membisikkan
angan-angan hingga si korban menunda amal dan taubatnya.
Dialah setan Qarin yang masing-masing manusia pasti disertai
satu qarin. Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنْ الْجِنِّ‘Tiada seorangpun dari kalian kecuali disertai satu qarin dari jin.’ (HR Muslim)
Hadits tersebut tidak menyebutkan akidah jin qarin, apakah
dia jin yang kafir (setan) ataukah sembarang jin termasuk yang muslim. Akan
tetapi dalam riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas disebutkan hadits yang hampir sama,
hanya saja kata ‘al-jin’ diganti dengan ‘asy-syaithan’, artinya qarin yang
dimaksud adalah setan. Nabi bersabda:
لَيْسَ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنْ الشَّيَاطِينِ قَالُوا وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ‘Tiada seorangpun dari kalian kecuali disertai satu qarin dari setan. Para sahabat bertanya: “Termasuk Anda wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Termasuk juga aku, akan tetapi Allah telah membantuku sehingga aku selamat (fa aslam).” (HR Ahmad)
Disebutkan pula dalam riwayat Muslim dari Aisyah yang bercerita: “Suatu malam Rasulullah saw keluar meninggalkan kami, lalu aku menjadi cemburu kepadanya, lalu beliau datang dan melihat apa yang aku lakukan lalu bersabda: ‘Mengapa engkau cemburu wahai Aisyah?’ Aku menjawab: ‘Apakah tidak pantas saya cemburu atasmu?” Beliau bersabda: ‘ Ataukah telah datang setan (yang menyertai)mu? Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah ada setan yang menyertai aku?’ Beliau menjawab: ‘ya’ Saya bertanya: “Apakah setiap manusia ada (yang menyertai)?’ Beliau bersabda: ‘Ya.’ Akupun bertanya: “termasuk Anda wahai Rasululah?’ Beliau menjawab: ‘Begitu pula aku, akan tetapi Rabbku Azza wa Jalla telah menolongku atasnya sehingga aku selamat (hatta aslam).’ (HR Muslim)
Para ulama berbeda pendapat tentang akhir kalimat, apakah
dibaca ‘fa aslamu/ hatta aslamu’ yang berarti ‘sehingga aku selamat’ ataukah
‘fa aslama/hatta aslama’. Ulama yang berpendapat bahwa bacaannya ‘fa aslama’
masih berbeda pendapat dalam
menafsirkan, apakah berarti ‘maka dia (setan) itu kemudian Islam’, ataukah
‘maka dia (setan) itu tunduk dan menyerahkan diri.
Bahaya Setan Qarin
Karena dekatnya, wajar dia sangat hafal akan karakter dan
gerak-gerik manusia yang diikutinya, kelebihan dan kelemahannya. Besar
kemungkinan, dia lebih tahu perwatakan seseorang katimbang istri, suami atau
orang tuanya. Setan ini pula yang paling ahli menirukan perangai orang yang
disertainya. Ketika ada orang yang telah mati dan di kubur, beberapa hari
kemudian terkadang nampak sosok yang sangat mirip dengan si mayit, terkadang
berbicara dengan suara yang mirip pula dengan si mayit, besar kemungkinan dia
adalah setan qarin yang dahulu menyertai orang yang mati tersebut. Syeikh Prof.
Dr. Sulaiman Al-Asyqar berkata tentang apa yang dianggap orang sebagai arwah
gentayangan: ‘Apa yang diklaim orang sebagai arwah (gentayangan) itu adalah
setan. Bisa jadi dia adalah setan qarin yang dahulu menyertai orang yang mati
tersebut. Telah banyak nash yang menunjukkan bahwa setiap manusia disertai oleh
setan. Maka qarin yang menyertai manusia itu mengetahui banyak tentang
perangai, kebiasaan dan sifat-sifatnya, juga sanak kerabatnya.’ (‘Alamul Jin wa
Asy-Syayathin 132)
Tapi yang penting untuk diwaspadai bahwa qarin yang
menyertai manusia tersebut mengetahui betul kapan orang yang di dampingi itu
lengah. Ibnu Abbas berkata:
الشَّيْطاَنُ جَاثِمٌ عَلَى قَلْبِ ابْنِ ادَمَ فَإِذَا سَهاَ وَ غَفَلَ وَسْوَسَ فَإِذاَ ذَكَرَاللهَ خَنَسَ‘Setan memantau hati anak Adam, jika dia lalai dan lengah, setanpun menggodanya, dan jika dia berdzikir kepada Allah, maka setanpun menjauh.’(Tafsir Ibnu Katsir 4/575)
Inilah karakter setan sehingga disifati dengan ‘al-waswas
al-khannas’ seperti dalam Surat An-Naas.
Setan juga mampu mendeteksi dengan belalainya, apa yang
paling dominan di hati seoranghamba. Setelah itu dia akan menjerumuskan seorang
hamba ke dalam salah satu di antara dua jurang, yakni tafrith (meremehkan)
ataupun ifrath (melampaui batas). Sehingga manusia tidak bisa lurus atau pas
kadarnya dalam melaksanakan perintah Allah. Ibnul Qayyim berkata: “Tiada satu
perintahpun yang diturunkan oleh Allah, melainkan setan kan menggoda manusia
dengan tafrith atau dengan ifrath (ghuluw), setann tidak peduli dengan cara
yang mana akan berhasil…”
Menghadapi Setan Qarin
Menyibukkan diri dengan brdzikir kepada Allah dalam segala
aktivitas dan kondisi adalah cara tepat uantuk mencegah godaan setan qarin.
Karena dzikrullah bisa menjauhkan manusia dari setan seperti disebutkan oleh
Ibnu Abbas di atas.
Ketika tiba-tiba ada dorongan kuat untuk bermaksiat, atau
muncul pikiran kotor hendaklah waspada, bisa jadi itu adalah bisikan setan
qarin. Yang paling utama untuk dilakukan adalah memohon pertolongan kepada
Allah untuk dapat mengusirnya. Karena kita tak akan dapat mengalahkan setan
kecuali dengan pertolongan Allah dan bekat taufik-Nya kepada kita. Seorang
salaf pernah bertanya kepada seorang muridnya: ‘Apa yang kamu lakukan ketika
setan membujukmu untuk berbuat dosa?” Dia menjawab: ‘Aku akan menghalauinya.’ Ulama itu berkata: “Itu terlalu lama, apakah engkau tidak
memperhatikan ketika engkau melewati rombongan domba, lalu anjing yang
menjaganya menggonggong dan menghalangimu untuk lewat, apa yang akan kamu
lakukan?” Dia menjawab: ‘aku akan menghalaunya sekuat tenaga.” Ulama itu
berkata: ‘itu terlalu lama bagimu.’ Mestinya engkau meminta tolong kepada
pemilik kambing, itu cukup bagimu. Maka jika engkau ingin selamat dari tipu
daya setan, mohonlah pertolongan kepada Penciptanya untuk menghalaunya darimu
dan menjagamu dari bahayanya.’
Membaca ta’awudz ketika merasakan godaannya juga merupakan
senjata ampuh untuk membentengi diri dari rayuan setan. Disebutkan dalam
Ash-Shahihain, bahwa Rasulullah saw bersabda:
يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ“Setan mendatangi salah seorang di antara kalian kemudian membisikkan (pertnyaan): “Siapakah yang menciptakan anu? Siapa pula yang menciptakan anu?” Hingga sampai pertanyaan: “Lantas, siapakah yang menciptakan Allah?” Jika sampai di situ, hendaknya ia membaca ta’awudz kepada Allah dan menyudahinya.”
wallahu a’lam. (Abu Umar Abdillah)



0 Komentar