MPI Lampung - Aqidah yang benar
adalah pondasi agama ini. Segala sesatu yang dibangun di atas selain pondasi
ini maka pada akhirnya akan hancur dan runtuh. Dari sini, kita dapat melihat
perhatian Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam
dengan meletakkan dan memantapkan aqidah yang benar ini dalam hari para
sahabatnya sepanjang hayatnya. Yang demikian itu semata-mata bertujuan untuk
membangun generasi yang handal diatas pilar yang kuat dan dasar yang kokoh.
Ayat-ayat al-Qur-an
yang turun di Makkah selama tiga belas tahun menerangkan tentang permasalahan
yang sama lagi tidak berubah, yaitu masalah aqidah dan tauhid kepada Allah
Ta’ala serta ibadah kepada-Nya. Berangkat dari aqidah dan urgensinya, maka Nabi
Shalallahu ‘Alaihi Wasalam di Makkah
tidak menyeru kecuali hanya kepadanya dan senantiasa mendidik para Sahabatnya
di atas aqidah tersebut.
Urgensi studi aqidah
Salafush Shalih bertumpu pada urgensi penjelasan aqidah yang murni, keharusan
untuk beramal yang sunguh-sungguh dalam rangka mengembalikan manusia kepadanya
(aqidah tersebut) dan menyelamatkan mereka dari kesesatan-kesesatan firqah dan
perbedaan kelompok. Maka hendaknya permasalahan aqidah menjadi prioritas yang
utama bagi para juru dakwah dalam dakwahnya.
Oleh karena itu, aqidah
menurut manhaj Salafush Shalih mempunyai beberapa keistimewaan dan ciri khas
yang unik, yang menjelaskan ketinggian nilainya dan keharausan untuk berpegang
teguh padanya. Diantara keistimwaannya.
Pertama;
aqidah salafush shalih adalah satu-satunya cara untuk mencegah berbagai
perselisihan dan timbulnya golongan-golongan, menyatukan barisan kaum muslimin
pada umumnya dan ulama serta para juru dakwah pada khususnya. Karena aqidah
yang benar itu merupakan wahyu Allah Ta’ala dan petunjuk Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wasalam, serta jalan
yang ditempuh oleh generasi pertama yaitu pada Sahabat yang muliah. Perkumpulan
apapun yang berlandaskan kepada selain aqidah yang benar ini maka akan berakhir
pada perpecahan, pertentangan kaum Muslimin sebagaimana yang kita saksikan saat
ini. Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas
kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin,
Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami
masukkan ia ke dalam Jahannam, Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.”
(An-Nisaa’: 115).
Kedua:
aqidah Salafush Shalih adalah menyatukan dan menguatkan barisan kaum muslimin,
serta memperkokoh persatuan mereka di atas kebenaran, karena aqidah tersebut
sebagai respon atas Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Dan berpeganglah kamu
semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali
Imran: 103).
Oleh karena itu,
sebab-sebab perselisihan kaum Muslimin yang paling penting adalah karena
perselisihan manhaj mereka dan banyaknya sumber rujukan pengambilan dalil di
kalangan mereka. Jadi penyatuan sumber rujukan mereka dalam masalah aqidah dan
penerimaan dalil adalah salah satu faktor penting untuk mempersatukan ummat,
sebagaimana telah terealisai pada generasi pertama.
Ketiga:
aqidah Salafush Shalih menghubungkan seorang Muslim secara langsung dengan
Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shalallahu
‘alaihi wasalam dengan kecintaan dan pengagungan keduanya serta tidak
mendahului Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shalallahu
‘alaihi wasalam (dalam menetapkan suatu hukum). Yang demikian itu, karena
aqidah Salaf sumber hukumnya adalah firman Allah dan Sabda Rasul-Nya, jauh dari
permainan hawa nafsu dan syubhat serta bersih dari pengaruh-pengaruh luar; baik
itu filsafat, ilmu kalam maupun rasionalisme. Jadi sumber aqidah Ahlus Sunnah
wal Jama’ah tiada lain kecuali al-Qur-an dan as-Sunnah.
Keempat:
Sesungguhnya aqidah salafush shalih mudah, praktis dan jelas; tidak ada
kesamaran dan kesukaran di dalamnya, tidak bertele-tele. Orang yang beraqidah
semacam ini akan senang hatinya, tenang jiwanya, jauh dari kebimbangan,
prasangka, was-was bisikan syaitan dan hatinya sejuk, karena ia berjalan di
atas petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi
wasalam ummat ini dan para Sahabat r.a. yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang kepada Allah dan
Rasul-Nya kemudiaan mereka tidak ragu-ragu dan mereke berjihad dengan harga dan
jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang yang benar.” (Al-Hujaraat:
15)
Kelima:
aqidah Salafush Shalih merupakan faktor yang paling agung untuk dapat
mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan mendapatkan keridhaan-Nya.
Inilah beberapa
keistimewaaan dari ciri khas yang terdapat pula Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tidak
ada perbedaan di dalamnya baik menurut tempat ataupun waktu, Walhamduulillah.
(Untuk detailnya dalam masalah ini, silahkan merujuk pada muqaddimah kitab,
Al-Ibanah ‘an Syari’atil Firqatin Naajiyah wa Mujanabatil Firagil Madzamuummah
(al-Ibaanatul Kubra) yang selanjutnya disebut al-Ibanah oleh Ibnu Baththah
al-‘Akbari. Didalamnya terdapat ungkapan yang berbobot seputar permasalahan
ini. Dan pada Muqadimmah kitab tersebut yang ditahqiq oleh Dr. Ridha bin Na’san
Mu’thi. Jazahullahu khairan. Dan lihat juga kitab, Mabaahits fii’Aqiidati Ahlis
Sunnah wal Jama’ah Mawaaqifil Harakatil Islamiyyatil –Mu’aashirah Minha, bab:
Min Khashaaishil ‘Aqiidatil Islamiyyah wa Atbaa’iba oleh prof. Dr. Nasir bin
‘Abdul Karim al-‘Aql).
Sumber: Diadaptasi dari
Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, Al-Wajiiz fii Aqiidatis Salafis Shaalih
(Ahlis Sunnah wal Jama'ah), atau Intisari Aqidah Ahlus Sunah wal Jama'ah),
terj. Farid bin Muhammad Bathathy(Pustaka Imam Syafi'i, cet.I), hlm. 63 - 66.
(alislamu.com)
(alislamu.com)


0 Komentar