“ Dan demikian (pula)
Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan, agar kamu
menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi
atas (perbuatan) kamu.” ( Qs Al Baqarah : 143 )
Umat Islam menjadi umat
yang pertengahan dan mampu menjadi saksi bagi umat-umat yang lainnya, karena
mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya adalah :
Pertama : Seimbang
antara Ilmu dan Amal.
Umat Islam dalam
hidupnya harus bisa menyeimbangkan antara ilmu dan amal. Tidak boleh -
umpamanya - hanya menekankan pada ilmu saja, tanpa diimbangi dengan amal
perbuatan yang nyata dalam kehidupan ini.
Sifat seperti ini
adalah sifat yang dimurkai oleh Allah swt, sebagaimana firman-Nya :
“ Wahai orang-orang
yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat
besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu
kerjakan.“ ( Qs Ash Shof : 2-3 )
Mengatakan sesuatu yang
tidak dikerjakan, artinya seseorang hanya berkutat pada teori belaka dan
berjalan di atas konsep yang kosong.Dia menjadikan ajaran Islam hanya sebagai
islamologi, ilmu pengetahuan tentang Islam yang hanya dibicarakan, didiskusikan
dan diseminarkan tanpa ada prkteknya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan
ironisnya lagi, amalan sehari-harinya justru bertentangan dengan ajaran Islam
yang biasa ia bicarakan di berbagai tempat.
Ini adalah sifat
orang-orang Yahudi, dimana mereka dikarunia oleh Allah ilmu yang sangat banyak,
tetapi perbuatan mereka tidak mencerminkan ilmu yang mereka miliki, bahkan
justru ilmu karunia Allah tersebut, mereka gunakan untuk membuat kerusakan di
muka bumi ini dengan menipu dan membodohi orang lain demi kepentingan dunia
mereka. Orang-orang Yahudi inilah yang dimurkai Allah di banyak tempat dalam Al
Qur’an.
Di sisi lain, umat
Islam juga tidak boleh hanya menekankan amal ibadah saja, tanpa diimbangi
dengan ilmu yang cukup. Sebelum beramal harus diketahui dulu teori dan ilmunya,
sehingga diharapkan amal yang dilakukan tersebut benar dan tidak menyeleweng,
sehingga dia akan berjalan pada jalan yang lurus dan benar yang akan
mengantarkannya pada tujuan. Beramal tanpa disertai ilmu yang cukup akan
menyebabkan seseorang tersesat di jalan, sehingga tujuannyapun tidak akan
tercapai. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang Nashrani yang bersemangat di
dalam beribadah, tetapi malas menuntu ilmu sehingga dicap oleh Allah semoga
umat yang sesat.
Allah swt telah
menggambarkan ketiga umat ini dengan cirri-cirinya masing-masing di dalam surat
Al Fatihah :
“Tunjukilah kami jalan
yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada
mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang
sesat. “( Qs Al Fatihah : 6-7 )
Jalan yang lurus adalah
jalannya umat Islam, yaitu umat yang menggabungkan antara ilmu dan amal secara
bersamaan. Sedang jalan orang-orang yang
dimurkai oleh Allah adalah jalannya umat Yahudi yang hanya menekankan keilmuan
tapi kosong dari pengamalan. Sedang jalan orang-orang yang sesat adalah jalannya
umat Nashara yang hanya semangat di dalam beribadah, tapi tidak punya bekal
ilmu yang cukup.
Kedua : Seimbang antara
rasa takut dan harapan.
Seorang muslim di dalam
hidupnya tidak boleh selalu diliputi rasa takut terhadap dosa-dosa yang selama
ini dikerjakannya secara berlebihan, sehingga menimbulkan rasa putus asa
terhadap rahmat dan ampunan dari Allah swt. Sebaliknya pula, dia juga tidak
boleh berlebihan di dalam mengharap rahmat dan ampunan Allah sehingga
meremahkan dosa-dosa yang selama ini dia kerjakan, bahkan menganggap enteng
dosa besar dengan dalih bahwa Allah Maha Pengampun.
Seorang muslim yang
baik adalah yang menggabungkan antara kedua hal di atas, yaitu menggabungkan
antara rasa takut terhadap siksaan Allah karena dosa-dosanya dan dalam waktu
yang sama, dia sangat mengharap rahmat dan ampunan dari-Nya. Dua hal ini
merupakan dua sayap orang muslim yang baik, sehingga dengan keduanya dia mampu
terbang ke angkasa dengan bebas dan penuh percaya diri. Jika salah satu dari
kedua sayap itu tidak ada, maka secara otomatis
dia akan terjatuh di jurang kehancuran di dunia dan di akherat kelak.
Allah swt telah
menggambarkan dengan indah kedua hal tersebut yangterdapat dalam diri seorang
muslim yang baik.
“ Orang-orang yang
mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di
antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan
takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus)
ditakuti.”
( Qs Al Isra’ : 57 )
Ketiga
: Seimbang di dalam menjalankan ajaran agama, sehingga tidak bersikap
berlebihan ( Ifrath ) dan juga tidak
bersikap meremehkan ( Tafrith ).
Seorang muslim di dalam
hidupnya tidak boleh terlalu berlebih-lebihan dalam menjalankan ajaran Islam,
yaitu melampaui batas dari apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya.
Tidak boleh – umpamnya – dia berlebih-lebihan di dalam melaksanakan sholat
tahajud sehingga tidak ada waktu tidur sama sekali, akhirnya pagi hari dia
dalam keadaan lemah dan kusut, serta tidak semangat menjalani kehidupan
sehari-hari karena belum istirahat semalam penuh. Begitu juga seorang muslim
tidak boleh – umpamanya- melakukan puasa ngebleng ( puasa tiap hari ) tanpa
berbuka sedikitpun, atau membujang selamanya, tidak mau menikah dengan seorang
perempuan dengan dalih bahwa menikah itu akan melalaikan ibadahnya.
Itu semua adalah
bentuk-bentuk berlebihan di dalam menjalankan ajaran agama yang dilarang di
dalam Islam.Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selama seimbang di dalam
ibadah dan amalannya. Dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik
ra, bahwasanya ia berkata :
Ada tiga orang
mendatangi rumah isteri-isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya
tentang ibadah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.Dan setelah diberitakan kepada
mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka.Mereka
berkata, "Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu
dan juga yang akan datang?"Salah seorang dari mereka berkata,
"Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya."Kemudian yang lain
berkata, "Kalau aku, maka sungguh, aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh)
dan aku tidak akan berbuka." Dan yang lain lagi berkata, "Aku akan
menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya." Kemudian datanglah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya:
"Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang
yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa.Aku
berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi
wanita.Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari golonganku."(
HR Bukhari, no : 4675 )
Dalam hadist Abu Hurairah
ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda :
"Sesungguhnya
agama itu mudah, dan tidaklah seseorang
( mempersulit diri ( berlebih-lebihan) di dalam mengamalkan agama ini,
kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit). Maka berlakulah lurus
kalian, mendekatlah (kepada yang benar) dan berilah kabar gembira dan minta
tolonglah dengan Al Ghadwah (berangkat di awal pagi) dan ar-ruhah (berangkat
setelah zhuhur) dan sesuatu dari ad-duljah ((berangkat di waktu malam) ".(
HR Bukhari, no : 38 )
Allah swt juga melarang
umat-umat terdahulu untuk tidak berlebihan di dalam mengamalkan agama,
sebagaiman larangan Allah kepada ahlul kitab di dalam firman-Nya :
“ Katakanlah: "Hai
Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak
benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang
telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah
menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang
lurus."( Qs Al Maidah : 77 )
Disamping larangan
untuk berlebih-lebihan di dalam melaksanakan ajaran agama Islam ini, seorang
muslim dituntut juga untuk tidak meremahkan dan bermalas-malas di dalamnya.
Jadi harus seimbang dan bersikap wajar.
Keempat : Kesimbangan
Antara urusan Dunia dan Akherat.
Seorang muslim yang
baik, dituntut untuk memikirkan dan mempersiapkan diri untuk mencari bekal yang
akan dibawanya ke alam akherat kelak, dan di waktu yang sama dia tidak boleh
melupakan keberadaannya di dunia yang dia jalani ini. Dalam hal ini Allah swt berfirman
“ Dan carilah pada apa
yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” .( Qs Al Qashash : 77 )
Ayat di atas memberikan
isyarat kepada kita tentang konsep keseimbangan dalam hidup seorang muslim.
Diantaranya adalah memadukan antara kepentingan dunia dan akherat sekaligus.
Oleh karenanya, tidak boleh seorang muslim hanya mementingkan kehidupan akherat
saja, tanpa pernah memikirkan kehidupan dunianya.
Sangat tidak dibenarkan
apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang aktivitasnya hanya
duduk-duduk di pojok-pojok masjid bermunajat kepada Allah, berdzikir, berdo’a
kepada Allah tapi pada saat yang sama mereka tidak bekerja mencari nafkah untuk
istri dan anaknya, tidak bergaul dengan masyarakat serta menjauhi kehidupan
dunia yang kita diperintahkan untuk memakmurkannya. Bahkan ironis lagi, mereka
bergantung kepada belas kasih orang lain di dalam mempetahankan hidup mereka
padahal mereka mampu bekerja.
Di sisi lain, kita
dapatkan sebagian kaum muslimin yang lain disibukkan dengan mengumpulkan
perhiasan dunia dan mengumbar hawa nafsunya dengan kenikmatan-kenikmatan dunia
yang semu. Mereka menghabiskan waktu mereka untuk memburu harta, tanpa ada sisa
waktu sedikitpun untuk memperbaiki agama dan kehidupan akherat mereka, bahkan
tidak waktu untuk istri dan anak-anak mereka.
Sikap yang paling tepat
adalah memadukan antara kepentingan dunia dan akherat sekaligus, mencari dunia
tanpa megorbankan akherat dan memperhatikan akherat tanpa mengabaikan kehidupan
dunia.
Rasulullah saw pernah
mengajarkan kepada kita do’a untuk kepentingan dunia dan akherat. Dalam hadist
Abu Hurairah ra, bahwasanya ia berkata :
"Rasulullah saw
pernah berdoa sebagai berikut: "Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku
agamaku sebagai benteng urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi
tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku!
Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala
kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala
kejahatan!"( HR Muslim, no : 4897 )
Mudah-mudahan yang
sedikit bermanfaat bagi kita semua, aamiin yang rabbal ‘alamin.
(Ahmad Zain Annajah)


0 Komentar