MPI
Lampung - Dewan Pengurus Harian Keluarga Besar Mahasiswa
Minangkabau (KBMM) di Sumatra Barat menolak rencana pendirian Rumah Sakit (RS)
Siloam di Sumatera Barat (Sumbar).
Seperti diketahui, mega
proyek senilai 1,3 triliun rupiah tersebut terkait dengan owner Lippo Group
James T Riady yang juga anggota beberapa lembaga Kristen internasional. Namun
CEO Lippo Grup tersebut membantah jika proyeknya ini dikaitkan dengan isu kristenisasi.
Baginya, proyek ini adalah murni sosial.
Sebelumnya, 16 Ormas
Islam juga menyampaikan pernyataan penolakan mereka secara tertulis dan lisan
atas rencana pendirian RS Siloam di Ranah Minang. Rapat tersebut dihadiri
langsung oleh Ketua MUI Sumbar Prof Dr H Syamsul Bahri Khatib.
MUI Sumatera Barat
sendiri telah menandatangani kesepakatan bersama dengan Ormas-ormas Islam untuk
menolak pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam yang akan dibangun di Jalan Khatib
Sulaiman, Kota Padang. Ormas Islam yang hadir rapat dan menyatakan penolakan
mereka adalah PW Muhammadiyah Sumbar, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia
(DDII), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),
Majelis Mujahidin, Nahdatul Ulama (NU), Aisyah, dan ormas Islam lainnya. Lembaga
Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar serta ormas Paga Nagari dan
sejumlah cendikiawan muslim Sumbar juga hadir.
Tidak Mau Ditipu James
Riyadi
Ketua Umum KBMM
(Keluarga Besar Mahasiswa Minangkabau), Efri Yunaidi dalam rilis yang dikirim
ke redaksi voa-islam.com, Ahad, (09/06/2013) mengatakan, pembangunan RS. Siloam
menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) terkait
adanya isu keterlibatan misionaris internasional dalam proyek tersebut.
“Rencana pembangunan RS
Siloam yang ditenggarai ada kaitan dengan misionaris yang dikhawatirkan dapat
merusak tatanan nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di ranah
minang.”
KBMM juga membuat empat
pernyataan sikap yang ditujukan pada pemerintah.
Pertama, mendesak
pemerintah daerah untuk membentuk dewan penasehat investasi daerah yang berisi
kan tigo tungku sajarangan sebagaiman yang telah ada semenjak dahulunya di
Ranah Minang, agar tidak bertabrakan dengan kearifian local.
Kedua, meminta
menghentikan segala rencana pembangunan RS Siloam dan turunannya di Ranah
Minang.
Ketiga, mendesak
pemerintah daerah dan siapapun yang apabila ada/telah menerima “upeti” dari
RS.Siloam/Lippo group untuk mengembalikan uang haram tersebut.
Keempat, pemerintah
daerah dipilih oleh rakyat untuk melayani kepentingan rakyat, sehingga
pemerintah daerah tidak dapat bergerak “ Sakalamak hati” dan mengabaikan
tuntutan rakyat.
Sementara itu Ketua
Dewan Syuro Dewan Dakwah Islam Indonesia
(DDII) Sumbar Masfar Rasyid mengatakan, meskipun owner Lippo Group James T
Riady, telah menyatakan secara terbuka
tidak ada kristenisasi dalam pembangunan RS Siloam. Namun, kata-kata James
Riady tersebut, tidak akan mempengaruhi upaya penolakan masyarakat Sumbar
terhadap pendirian RS Siloam tersebut.
“Kata-kata James Riady
tersebut, hanya bualan semata, untuk memuluskan niat misionarisnya di Sumbar.
Apapun yang dikatakan James Riady tidak akan mengubah niat masyarakat Sumbar
untuk menentang pembangunan RS Siloam di Padang. James T Riady tidak usah
berkilah lagi. Lagi pula masyarakat Sumbar bukanlah msyarakat yang mudah untuk
dibohongi,” ujarnya, kemarin.
Pemerintah hendaknya
membuka mata, dan mencabut izin yang telah diberikan. Sehingga, masyarakat
Sumbar bisa terlepas dari belenggu kristenasisasi yang akan dilakukan oleh
tokoh misionaris James T Riady.
(voa-islam.com)



1 Komentar
mantaaapppz
BalasHapus