![]() |
| Sumber gambar : islampos.com |
Biasanya
di Bulan Ramadhan beberapa masjid menerapkan 1 Juz per hari dalam Shalat tarawihnya,
dengan begitu para makmum shalat dibelakang imam sambil memegang mushaf untuk
menyimak ataupun membenarkan imam jika bacaannya salah. Peristiwa ini juga
sering saat kita melakukan I'tikaf di Masjid terlihat banyak orang melanjutkan
shalat malam sambil memegang mushaf Al-Qur'an. Hal ini dikarenakan kebanyakan
orang hanya hafal surat surat pendek saja, namun ingin shalat mendapatkan
keutamaan berdiri lama dalam shalat. Beberapa Ulama berbeda pendapat dengan
peristiwa ini, ada yang membolehkan dan ada pula yang mengharamkan.
Pendapat
pertama,
Batal
Shalatnya karena terlalu banyak bergerak orang yang shalat sambil membawa
mushaf, melihat dan membolak-balikkan halaman mushaf. Ini adalah pendapat dari
Imam Abu Hanifah, sementara muridnya Abu Yusuf dan Muhammad Asy-Syaibani
memakruhkan perkara ini. Sementara Imam Syafii berpendapat "Tidak
Makruh" (Bada’i ash-Shana’i, 1:236)
Pendapat
Kedua,
Boleh
membaca Al-Qur'an sambil memegang mushaf berdasarkan dalil atsar Aisyah R.A. :
“Bahwasannyanya
beliau diimami budaknya Dzakwan RA dengan membaca mushaf pada bulan
Ramadhan.”(diriwayatkan Bukhari secara muallaq dan Baihaqi dengan sanad yang
shahih).
“Zahirnya
menunjukkan bolehnya membaca dari mushaf ketika shalat. Ini merupakan pendapat
Ibnu Sirin, Hasan al-Bashri, al-Hakam, dan Atha’. Anas bin Malik juga pernah
menjadi imam, sementara ada anak di belakang beliau yang membawa mushaf.
Apabila beliau lupa satu ayat, maka si anak tadi membukakan mushaf untuk
beliau. Imam Malik juga membolehkannya ketika tarawih, sementara an-Nakhai,
Said bin Musayib, dan asy-Sya’bi membencinya. Mereka mengatakan: ‘Itu seperti
perbuatan orang Nasrani.’” (Umdatul Qori, Syarh Shahih Bukhari, 5:225).
Wallahu a’lam bishowab…
sumber : konsultasisyariah.com , arrisalah.net
sumber : konsultasisyariah.com , arrisalah.net


