MPILAMPUNG.ORG – Dakwah
dalam Islam merupakan ibadah yang sangat agung, jalan yang ditempuh para nabi
dan rasul, para pengembannya merupakan insan-insan terbaik umat yang mempunyai
azam yang kuat. Sejatinya dakwah adalah mengajak kepada agama Allah Subhanahu
wa Ta’ala, kepada syariat-Nya dan melarang semua yang menyelisihinya.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman (yang artinya):
“Dan hendaklah ada di
antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang
ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”
[Ali ‘Imrân (3): 104]
Ada kisah menarik
tentang semangat dakwah yang disampaikan oleh DR. Muhammad Ratib An-Nabulsy
saat khutbah Jumat tertanggal 2 Juli 2010. Sebuah kisah inspiratif terjadi di
Amsterdam yang sangat menarik untuk disimak. Semoga kisah ini dapat menambah
semangat kita dalam berdakwah.
Menjadi kebiasaaan di hari Jum’at, seorang Imam
Masjid dan anaknya yang berumur 11 tahun membagi brosur di jalan-jalan keramaian,
sebuah brosur yang berjudul Thariiqun ilal jannah, jalan menuju surga.
Tapi kali ini suasana
sangat dingin ditambah rintik air hujan yang membuat orang benar-benar malas
untuk keluar rumah. Si anak telah siap memakai pakaian tebal dan jas hujan untuk
mencegah dinginnya udara, lalu ia berkata kepada sang ayah,
“Saya sudah siap, Ayah!”
“Siap untuk apa, Nak?”
“Ayah, bukankah ini
waktunya kita menyebarkan brosur ‘jalan menuju surga’?”
“Udara di luar sangat
dingin, apalagi gerimis.”
“Tapi Ayah, meski udara
sangat dingin, tetap saja ada orang yang berjalan menuju neraka!”
“Ayah tidak tahan dengan
suasana dingin di luar.”
“Ayah, jika diizinkan,
saya ingin pergi menyebarkan brosur ini sendirian.”
Sang ayah diam sejenak
lalu berkata, “Baiklah, pergilah dengan membawa beberapa brosur yang ada.”
Anak itu pun keluar ke
jalanan kota untuk membagi brosur kepada orang yang dijumpainya, juga dari
pintu ke pintu. Dua jam berlalu dan brosur hanya tersisa sedikit saja. Jalanan
sepi dan ia tak menjumpai lagi orang yang lalu lalang di jalanan. Ia pun
mendatangi sebuah rumah untuk membagikan brosur itu. Ia memencet tombol bel
rumah, namun tidak ada jawaban. Dipencetnya lagi dan tak seorang pun keluar.
Hampir saja ia pergi, namun seakan ada sesuatu yang menghalanginya. Untuk
kesekian kali ia kembali memencet bel
dan ia mengetuk pintu dengan lebih keras. Ia menungu beberapa lama, hingga
pintu terbuka pelan. Ada wanita tua keluar dengan raut wajah yang menyiratkan
kesedihan yang dalam. Wanita itu berkata, “Apa yang bisa dibantu wahai anakku?”
Dengan wajah ceria,
senyum yang bersahabat, si anak berkata, “Nek, mohon maaf jika saya menggangu
anda, saya hanya ingin mengatakan bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga
Anda. Saya membawa brosur dakwah untuk Anda yang menjelaskan bagaimana Anda
mengenal Allah, apa yang seharusnya dilakukan manusia, dan bagaimana memperoleh
ridha-Nya.”
Anak itu menyerahkan
brosurnya dan wanita itu sempat mengatakan terima kasih.
Sepekan kemudian, usai
shalat Jum’at, seperti biasa Imam masjid berdiri dan menyampaikan sedikit
tausiyah, lalu berkata, “Adakah di antara hadirin yang ingin bertanya atau
ingin mengutarakan sesuatu?”
Di barisan belakang,
terdengar seorang wanita tua berkata, “Tak ada di antara hadirin ini yang
mengenal saya, dan baru kali ini saya datang ke tempat ini. Sebelum Jum’at yang
lalu, saya belum menjadi seorang muslimah, dan tidak berfikir ntuk menjadi
seperti ini sebelumnya. Sekitar sebulan yang lalu suami saya meninggal, padahal
ia satu-satunya orang yang saya milikidi dunia ini. Hari Jum’at yang lalu, saat
udara sangat dingin dan diiringi gerimis, saya kalap, karena tak tersisa lagi
harapan saya untuk hidup. Maka saya mengambi tali dan kursi, lalu saya
membawanya ke kamar atas di rumah. Saya ikat ujung tali di kayu atap. Saya berdiri
di kursi, lalu saya kalungkan ujung tali yang satunya ke leher, saya memutuskan
untuk bunuh diri.
Tapi tiba-tiba, saya
mendengar suara bel rumah di lantai bawah. Saya menunggu sesaat dan tidak
menjawabnya. Paling sebentar lagi pergi, batin saya.
Tapi ternyata bel
berdering lagi dan saya memperhatikan ketukan pintu semakin keras terdengar.
Lalu saya lepas tali yang melingkar di leher saya dan saya turun untuk melihat
siapa yang mengetuk pintu.
Saat saya membuka pintu,
saya melihat seorang bocah berwajah ceria dengan senyum laksana malaikat dan
saya belum pernah melihat anak seperti itu. Ia mengucapkan kata-kata yang
sangat menyentuh sanubari, ‘Saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai
Anda dan akan menjaga Anda.’ Kemudian anak itu menyodorkan brosur kepadaku yang
berjudul Jalan Menuju Surga.
Saya pun segera menutup
pintu dan mulai membaca isi brosur. Setelah membacanya, saya naik ke lantai
atas melepaskan ikatan tali di atap dan menyingkirkan kursi. Saya telah mantap
untuk tidak memerlukan itu lagi selamanya.
Anda tahu, sekarang ini
saya benar-benar merasa sangat bahagia karena bisa mengenal Allah yang Esa.
Tiada ilah yang haq selain Dia. Dan karena terdapat alamat markas dakwah yang
tertera di brosur itu maka saya datang ke sini sendirian untuk mengucapkan
pujian kepada Allah, kemudian berterima kasih kepada kalian, khususnya
‘malaikat’ kecil yang telah mendatangiku pada saat yang tepat. Mudah-mudahan
itu menjadi sebab selamat saya dari kesengsaraan menuju kebahagiaan surga yang
abadi.”
Mengalirlah air mata para jaamaah yang hadir di
masjid dan bergemuruhlah takbir. Allahu Akbar! Sementara sang Imam turun dari
mimbarnya menuju shaf paling depan, tempat di mana putranya yang tak lain
adalah ‘malaikat’ kecil itu duduk. Sang ayah mendekap dan mencium anaknya
diiringi tangisan haru. Allahu Akbar!
[Disalin dari buku Muslim Hebat karya Abu Umar Abdillah
terbitan ar-risalah]


