MPILampung.Org -- Begitulah realita mahasiswa! Sibuk kuliah, tugas dan lembar
kerja. Tiada henti rasanya tumpukan-tumpukan urusan dunia terus datang seperti
tidak ada habisnya. Disisi lain, hari-hari entah kenapa terus berjalan dengan
amat cepatnya. Waktu yang masih 24 jam, rasanya amat singkat untuk
menyelesaikam tugas-tugas yang ada.
Foto: Pemuda Muslim Selandia Baru
Jadwal makan keteteran, tidur pas-pasan, dan parahnya sholat
wajib lima waktu sudah barang tentu terlupakan. Apalagi baca Al-Qur'an, nah
sudah tidak ada lagi di pikiran. Sholat sunnah dan sholat malam bahkah
sekilaspun tak pernah mampir di pikiran.
Apa ia jadi mahasiswa harus begitu? Apakah ini berlaku umum
untuk seluruh mahasiswa yang umumnya baru atau karena kelasahan kita dalam
manajemen waktu?
Mari kita menyapa seorang pemuda yang prestasinya luar
biasa. Ia adalah seorang kepala negara dan kesatria bernama Muhammad Al Fatih,
yang pada usia 21 tahun berhasil mencatat kilau sejarah dengan menaklukkan
Konstatinopel. Tidak mengherankan karena Muhammad Al Fatih kecil telah menyelesaikan
hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar
matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad Al Fatih juga
mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani.
Sehingga tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad Al Fatih sangat lancar
berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!
Di umurnya yang cukup belia dia adalah seorang kepala negara
dan seorang panglima perang yang amat besar kewajiban dan tanggung jawabnya.
Tugasnya bukan lagi seukuran lembaran-lembaran rumusan masalah dan
hitung-hitungan hasil pembahasan. Bukan pula tugasnya hanya untuk mengurusi
dirinya sendiri atau satu dua orang, melainkan orang-orang satu negara yang
harus ia selesaikan masalahnya satu per satu.
Dengan tugas yang begitu besar dan berat lantas apakah itu
membuat Muhammad Al Fatih jadi melupakan tugasnya sebagai hamba Alloh? Apakah
masalahnya yang begitu berat dan berketerusan lantas membuatnya lupa kepada
Alloh? Bukankah kita jumpai bahwa ia akhirnya menjadi sebaik-baik pemimpin dan
pasukan yang ada dibawahnya pada saat penaklukan Konstaninopel adalah
sebaik-baik pasukan. Maka, pastilah standar kebaikan yang dikabarkan itu bukan
hanya masalah kecakapan Muhammad Al Fatih dalam strategi dan kekuatannya saja.
Melainkan julukan itu juga berarti bahwa ia juga menjadi yang terbaik pada masa
itu dalam urusan ketaatan pada Robbnya yang kepada-Nya ia memohon kekuatan atas
kepemimpinannya.
Sekarang, kita tengok diri kita. Apakah tugas kita sudah
lebih besar daripada tugasnya Muhammad Al Fatih? Apakah masalah kita sudah
lebih berat daripada masalahnya Muhamad Al Fatih? Dan jika perhatikan lagi
bahkan usia kita saat ini dengan usia Muhammad Al Fatih di waktu itupun tidak
berbeda jauh. Muhammad Al Fatih dengan usianya ia sudah bertumpuk dengan
segudang prestasinya untuk Islam dan Negara. Dan kita yang merasa punya
setumpuk masalah yang tak habis-habisnya, mana prestasinya untuk Islam? Mana
prestasinya untuk negara?
Siapa yang harus disalahkan? Tentunya yang paling patut
disalahkan hanya diri kita sendiri. Jangan-jangan ada yang salah dengan hidup
dan cara kita memandang dunia. Jangan-jangan ada yang salah dengan kita dalam
memahami dan menjalankan Syariat Islam yang sempurna. Maka, mari kita koreksi
lagi jika dunia masih terasa amat membelenggu hingga melalaikan urusan Syariat
artinya ada yang salah dengan diri kita.
Penulis: Andi S. Raisyahid



1 Komentar
^_^ 'Jadi inget masa-masa maba dulu kalo cerita begini
BalasHapus